Cukupkah Saman Saja?

TARIAN Saman yang berasal dari Gayo akan dikukuhkan oleh UNESCO pada November 2011 nanti. Pengakuan budaya ini merupakan hadiah yang sangat besar bagi Aceh di tengah kelangsungan perayaan wisata, baik itu Visit Banda Aceh Years 2011 maupun persiapan Aceh Years 2013. (Serambi Indonesia, 19 April 2011).

Sejak diembus akan dikukuhkan oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), keberadaan Saman menjadi popular di mata semua orang. Apa pasal? Hal itu tak lain karena Saman memiliki aliran musik yang jauh berbeda dengan sejumlah musik yang ada di nusantara. Aliran musik Melayu pada umumnya memiliki ritme musik yang mellow kendati dibarengi dengan segudang alat musik. Akan halnya Saman. Jenis tarian ini mengikuti aliran musik keras atau lebih dikenal dengan rock. Gerakan tangan yang begitu cepat, tubuh, hingga lantunan hikayat dengan suara lantang memberikan aroma baru bagi penikmat musik Melayu di nusantara, bahkan di Asia.

Berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan beberapa turis mancanegara, musik rock merupakan salah satu aliran musik tua yang selalu menjadi biduan mereka pada umumnya. Musik itu dianggap bisa menghilangkan beban mereka dari berbagai masalah yang dihadapi. Apalagi setelah seharian berhadapan dengan berbagai tumpukan pekerjaan yang membuatnya bosan. Acap kali mereka mengguncang panggung dengan dentuman suara musik yang menggelegar. Beda halnya dengan aliran musik mellow. Pemilihan ini hanya pada waktu tertentu di mana mereka sedang merasakan jatuh cinta. Alhasil, Saman menjadi salah satu pemicu keingintahuan turis manapun terhadap Aceh secara umum karena mengandung entitas rock.

Euforia Saman
Pastinya semua masyarakat Aceh mengetahui, proses pengakuan Saman oleh UNESCO bukanlah hal yang mudah. Kemenbudpar tentunya bekerjasama dengan Pemerintah Aceh melalui aneka proses verifikasi termasuk keunikan, orisinilitas, dan lainnya untuk melengkapi syarat administrasi. Walhasil, diterimalah ajuan ini oleh UNESCO dan akan dideklarasikan pengakuannya di Bali November mendatang.

Lebih dasar dari hal itu, prosesi Saman menuju pengakuan UNESCO tak lain karena tingginya kuantitas penampilannya di berbagai medium lokal, nasional, hingga internasional. Para pelaku seni selalu memasukkan Saman sebagai salah satu penampilan tariannya, dengan landasan tarian ini memiliki kekuatan propaganda untuk menghipnotis pemirsa.

Dengan semakin besarnya jumlah penampilan, begitu pula kualitasnya, masyarakat menjadi intim dengan Saman. Mereka merasa mendapatkan kekuatan besar yang ditransfer oleh para penari di atas panggung. Keunikan dan kekuatan ini bisa menjadi candu bagi sejumlah orang. Tak heran di sejumlah momentum internasional, para pelaku seni melalui Pemerintah di Aceh diundang secara istimewa ke sejumlah negara. Begitu pula mahasiswa-mahasiswa Aceh yang sedang menimba ilmu di luar negeri acap kali diminta menampilkan Saman.

Lebih daripada itu, sebagai masyarakat Aceh tentu saja kita berharap akan ada seni budaya lainnya yang bisa diakui oleh UNESCO sebagai lembaga resmi PBB. Dengan demikian, publikasi positif Aceh di mata dunia dapat meningkat pula untuk mengubah pola pikir negatif Aceh sebagai wilayah konflik dan area bencana tsunami.

Apalagi selain Saman, Aceh masih memiliki segudang tarian etnik lainnya yang tak kalah energik dan unik. Sebut saja seperti Rapai Geleng, Rateb Meuseukat, Ratoh Duek, Seudati, Tarek Pukat, Didong, Guel, Munalu, Ula-ula Lembing, dan banyak lainnya. Hal itu akan membuat mereka tak sempit mengenal Aceh dengan konflik, tsunami, dan Saman saja, melainkan dengan seni-seni lainnya.

Apa yang dilakukan Pemerintah Banda Aceh melalui penampilan Komunitas Seni Krak Aceh di Singapura 1-3 Juli 2011 lalu dalam Enchanting Indonesia 2011 patut diancungi jempol. Tim seni ini menyuguhkan penampilan yang tak biasa yakni Rapai Geleng dan Seudati. Padahal panitia setempat kekeh menginginkan Saman ditampilkan. (The Globe Journal, 3 Juli 2011)

Saat penampilan dilangsungkan, ratusan pasang tangan bertepuk meriah. Wajah-wajah lesu tersenyum lebar. Lensa-lensa fotograper pun tak henti menangkap aksi itu. Seusai penampilan, Aceh menjadi perbincangan. Bahkan Kedubes KBRI di Singapura Kensy Dwi Ekaningsih berjanji akan mengundang Banda Aceh lagi tahun depan. Suatu kesimpulan bahwa Rapai Geleng, maupun Seudati juga memiliki energi yang tidak biasa. Jadi, bukanlah mustahil jika tarian lainnya ikut ditampilkan oleh pelaku seni di medium manapun, ianya juga dapat diakui oleh UNESCO di tahun mendatang.

18 negara akan tampil dalam festival tarian rakyat Aceh 23-29 Juli 2011 ini. Kesempatan tersebut akan menjadi momentum yang langka untuk memperkenalkan Aceh dalam konteks yang luas. Sebelumnya saat Aceh ikut serta dalam tarian rakyat (Folklore festival) di Turki Juli 2010, Saman menjadi alat jual terdepan. (Serambi Indonesia, 7 Juli 2011)

Mungkin akan berbeda jika tahun ini para pelaku seni membangun euphoria lainnya selain Saman. Misalnya menjadikan Rapai Geleng atau Seudati sebagai ikon Aceh lainnya. Bayangkan jika ini dilakukan secara berkelanjutan. Rapai Geleng dan Seudati juga dapat menjadi biduan turis. Hal itu tentunya dapat memudahkan Aceh untuk kembali mendaftarkan seni budaya lainnya ke UNESCO. Dengan demikian, ketika menyebutkan Aceh maka mereka akan mengingat Saman, Rapai Geleng, dan Seudati. Jumlah ini tentunya perlu ditambah lagi setiap tahunnya dengan upaya yang riil. Atau kita sudah berhenti dengan prestasi ini. Cukupkah Saman Saja?

* Penulis adalah mahasiswa Teknik Elektro Unsyiah. Ikut menyaksikan Enchanting Indonesia 2011 di Singapura.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s